Tentang Shanumku Bag 1 (Prediksi Kelahiran, Diluar Normal, Second Opinion)

Shanum Kafiah Naladhipa, lahir di Tangerang pada hari Kamis tanggal 29 September 2016 tepat pukul 14:16 dengan Operasi Caesar.

Selasa, 27 September 2016

Malam itu jadwal saya check up kandungan, bertemu dengan dokter kami dr.Irmiya Rahmiyani di RS.Mulya Tangerang. Usia kandungan sudah memasuki week 38 namun belum ada tanda-tanda alami untuk persalinan. Dokter Irmiya seperti biasa mengecek keadaan janin dengan USG. Semua masih terlihat normal dan baik-baik saja, namun malam itu disarankan untuk CTG karena memang belum melakukan CTG sebelumnya. CTG adalah Cardiotograph tujuan-nya untuk mengukur denyut jantung janin dalam menanggapi gerakan sendiri. bayi yang sehat akan merespon dengan peningkatan denyut jantung selama masa gerakan.

Saya masih awam untuk hal-hal terebut, jadi ada perasaan khawatir saat pemeriksaan dimulai. Pertama kalinya saya masuk ruang persalinan untuk pemeriksaan CTG ini, langsung perasaan khawatir menerjang, saya takut sekali menghadapi persalinan ini, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, saya banyak-banyak berdoa padahal baru juga pemeriksaan awal yaah ... tapi nervous-nya udah kayak apa saja :-)

Saat mulai pemeriksaan, perut saya dililit alat entah apa itu namanya, lalu saya disuruh pegang remote dan disuruh pencet jika ada gerakan dari jabang bayi-nya. Setelah beberapa menit keluarlah hasil dari rekam detak jantung bayi ini yang saya nggak ngerti sama sekali maksudnya apa, lalu bidan yang bantu proses CTG ini menunggu dokter Irmiya untuk memberikan penjelasannya kepada saya dan suami.

Ini hasil yang sempat di capture suami saya

dr.Irmiya datang keruangan dan mencoba membaca hasilnya, saya menangkap muka khawatir dari dia, dan saya menanyakan bagaimana hasil CTG saya ? Dia menjelaskan kalau ada yang nggak biasa dari hasilnya, katanya dari hasil rekam detak jantung tersebut diatas normal detakan-nya, maka dilakukan pengecekan sekali lagi. Dan hasil kedua masih sama, saya dan suami mulai khawatir, lalu dr.Irmiya mencoba menangkan, dia menanya apakah saya nervous ? dan jam berapa terkahir makan malam itu ? mencoba menganalisa dari hasil rekam detak yang diatas normal. Dan dia bilang jika harus segera mengambil tindakan jika detak jantung ini masih tinggi karena khawati akan keadaan janin. Saya dan suami makin khawatir dengan apa yang terjadi, karena sebelumnya saya tidak merasakan apapun, dan semuanya baik-baik saja. Kemudian dilakukan pengecekan ketiga kalinya, namun sebelum pengecekan saya diberikan tambahan oksigen dari hidung selama kurang lebih 30 menit.

Malam itu sudah pukul 23.15 dr.Irmiya melanjutkan test CTG ketiga kalinya, dan katanya hasilnya mulai sedikit normal namun masih ada kekhawatiran, dari raut wajahnya yang saya tangkap seperti ada sesuatu yang membuat saya dan suami menjadi khawatir, suami saya sampai bolak-balik bertanya tentang keadaan sebenernya seperti apa dan apa yang harus dilakukan ? karena kami sama-sama awam akan hal ini. Dokter menenangkan kami dan memberi pilihan malam ini harus ditindak segera, karena kandungan juga sudah waktunya dan sudah bisa untuk proses persalinannya.

Saya dan suami yang belum ada persiapan apapun karena awal kami check hanya mau tau kondisi janin jadi belum ada persiapan jika harus ditindak malam itu juga. Akhirnya dokter memberi pilihan, jika dalam dua hari tidak ada tanda-tanda sama sekali maka paling lambat hari Jumat-nya harus segera ditindak. Dan malam itu setelah tanda-tangan pilihan yang harus kami buat kami kembali, dan akan segera menghubungi dr.Irmiya jika ada hal-hal yang menghawatirkan.

Malam itu 23.30 kami baru selesai dari RS dan orang rumah terutama papa saya sms saya khawatir kenapa saya belum pulang juga, apakah ada yang nggak beres ? saat saya sampai rumah pkl 23:50 papa yang bukakan pintu dan langsung menanyakan keadaan saya. Dan saya cerita apa yang terjadi tadi saat di rumah sakit.

Dokter menyebutkan jika ada ketidak normalan detak jantung bayi dan harus segera mengambil tindakan persalinan malam itu juga, namun karena saya dan suami belum ada persiapan apapun jika harus bersalin malam itu, maka kami meminta untuk beri kami waktu setidaknya kami bisa mendapat opini lain tentang hasil CTG tersebut. Saya dan suami memutuskan untuk mencari opini lain.

Rabu, 28 September 2016

Saya masih ada kerjaan yang harus diselesaikan sebelum mengajukan cuti untuk persiapan persalinan nanti. Ada meeting di Senayan dan ada janjian ketemu sama Wili karna dia ngundang lunch bareng ngerayain ultahnya dia. Sambil diperjalanan saya whatsapp-an sama suami yang menyarankan saya untuk periksa ke dokter lain tentang keadaan janin saya (kita mau dapat second opinion). Karena kantor saya dekat dengan RS Bersalin ASIH, maka dia menyarankan saya untuk periksa disana. Saya memutuskan untuk setelah pekerjaan saya selesai untuk ke sana.

Foto H-1 Sebelum Shanum Lahir :-)

Selesai meeting dan sebelum kembali ke kantor dikawasan blok M, saya menyempatkan untuk makan siang bareng teman-teman saya di FX, teman-teman saya pada nanya kapan saya lahiran, saya bilang kemungkinan awal Oktober. Mereka menyarankan saya untuk segera istirahat dan mengambil cuti mengingat beban diperut saya yang semakin terlihat bulat sempurna. 

Setelah selesai urusan kantor pkl.19:00 saya menelpon abang saya Dwi untuk meminta dia mengantarkan saya ke RS Bersalin ASIH karna saya khawatir juga jika harus memeriksa kandungan sendirian. Beruntungnya Abang saya sore itu sedang berada dikawasan blok M juga jadi saya nggak perlu menunggu lama untuk meminta diantarkan dia ke RS, setelah sampai RS ke bagian pendaftaran untuk CTG bisa namun tidak ada Obgyn yang praktek dimalam itu, maka jika mau CTG tanpa ada penjelasan bisa dilakukan, namun saya berfikir untuk apa jika CTG tanpa tau hasilnya seperti apa. Maka saya memutuskan besok untuk kembali lagi ke Asih dan membuat janji di waktu Obgyn perempuan praktek (Ya, saya lebih prefer Obgyn perempuan dibanding lelaki, ini juga karena permintaan suami saya). 

Saya kembali kerumah dan abang saya kembali kerumahnya juga, selama perjalanan pulang saya ditelpon teman saya Afrita, dia menanyakan saya sedang dimana dan mulai komplain kenapa saya belum juga mengambil cuti padahal usia kandungan saya sudah semakin tua, saya bilang karna kemungkinan lahirnya adalah awal Oktober atau paling lambatnya pertengahan Oktober 2016. 

Teman saya bilang "Loe gilaa mbak, bukannya istirahat aja dirumah nunggu waktu lahir, malah masih aja sibuk ke kantor" 

Saya pun sebenarnya belum mau mengambil cuti karena memang masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan, dan belum ada pengganti untuk yang back up kerjaan saya selama saya cuti, dan cuti saya hanya dapat 2 bulan saja, jadi sangat singkat sekali jika saya mengambil sebelum dekat-dekat hari persalinan. Saya mau cuti saya panjang setelah saya persalinan agar saya bisa berlama-lama menikmati waktu saya dengan bayi saya nantinya. 

Saat diperjalanan saya jadi terfikir untuk segera mengajukan cuti untuk mempersiapkan persalinan, malam itu juga saya whatsapp atasan saya, memberi info jika saya akan membicarakan mengenai cuti saya, saya harus mengajukan segera dan memberi informasi atas rekomendasi dokter untuk tindakan saya yang dianjurkan dilakukan dalam dua hari kedepan. Atasan saya bilang jika besok schedule untuk membicarakan masalah cuti saya dan dia memberi nasehat untuk saya agar tidak terlalu capek dan harus banyak istirahat untuk saat ini.

Sampai rumah jam 21:00 dan suami saya seperti biasa sudah dirumah menyiapkan air kelapa hijau, dan malam itu saya merasa lapar dan sangat ingin makan Siomay abang-abang yang lewat depan rumah. Jam 22:00 saya masuk kamar dan merasakan tidur  yang tidak nyaman karena perut yang semakin lebar dan badan yang semakin mekar :-( 


Lanjut ke Bag 2  yaaaah .... :-) 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara menghadapi Cowok yang "meminta" lebih ^_~

Butterfly in my stomach

“Yah udah jalanin aja dulu”