Hari ini 3 Tahun Lalu!

Benar adanya skenario Allah lebih indah daripada rencana-rencana manusia. Sehebat apapun manusia berencana tidak ada yang sesempurna Allah dalam mewujudkan impian.

3 Tahun lalu hari ini adalah hari dimana yang aku selalu tunggu, dimana doa beribu kali terpanjat. Harapan tergantung pada-Nya.

Awal tahun di tahun itu, aku berharap dapat naik kelas kehidupan dari single menjadi married. January, February, Maret tak jua ada tanda-tanda ke arah yang lebih serius, padahal tak jarang orang tua mendesak untuk segera dihalalkan anak perawan satu-satunya ini.

Di pertengahan bulan April, ada hal menarik yang perlu aku share, jadi ceritanya pada suatu weekend, karena memang kami bertemu hanya pada saat weekend, aku lupa harinya itu sabtu or minggu, jadi Suamiku itu (yang dulu statusnya masih jadi pacar) mengajak aku pergi, aku yang memang orangnya gak banyak tanya, cuma ikut aja dan hayok aja asal sama dia (hihihi).

Sampailah kami di Blok M, aku masih belum tau mau dibawa kemana, fikiranku saat itu paling cuma menemani untuk kepentingan dia aja, entah itu berhubungan sama mobil, atau kamera, aku nggak ada firasat apa-apa. Tibalah masuk ke pertokoan emas, aku masih nggak ada feeling apapun dan yang terlintas di benakku saat itu, paling Dodo mau beliin emas buat mama-nya.

Satu dua toko Dodo celingak-celinguk sampai akhirnya dia berhenti disalah satu toko, dan melihat-lihat perhiasan cincin (saat itu perasaan aku masih gak peka, di benakku paling dia mau beli buat investasi). Dan ketika penjaga toko menyapa kami, Dodo mulai membuka suara "Ada cincin kawin mas?" tanyanya pada penjaga Toko itu. (Hati aku mulai deg-degan nih cuma nyangkanya paling buat kebutuhan foto dia aja)

Kemudian penjaga toko memperlihatkan koleksi cincin kawin dari tempat display-nya. "Nih pilih yang kamu suka ?" Dodo said tanpa tendeng aling-aling.

Aku yang saat itu berdiri disampingnya langsung gemetar dari ujung kaki ke ujung kepala, speechless abisss dan cuma menatap mata Dodo seolah mempertanyakan "Whaaaat the eeefff?"

Sumpaah yaah nih lakiii nggak ada romantis-romantisnya sama sekali, yakali beliin cincin tanpa ada maksud apa-apa, gak ada kode sebelumnya, sumpaaah ini itu salah satu hal romantis yang dia lakuin ke aku, meskipun bener-bener flat banget ekspresinya dan aku pun begitu, entah apa yang ada di benaknya Dodo pas ekspresi aku cuma keringet dingin sekujur tubuh saat itu.

Dalam perjalanan memilih cincin tersebut, ekspresi aku beneran gak bisa ke kontrol, aku cuma bisa diam menahan gejolak darah yang deras banget mengalir dari ujung kaki ke ujung kepala.

Hari itu benar-benar hari yang mengesankan, di lamar (sebelumnya sih dilamar pas saat dia nyatain suka sama aku di 18 Oktober 2013, namun beneran kawinnya 2 tahun 2 bulan setelahnya tepatnya 5 December 2015). But its ok, Dia adalah lelaki pilihan Allah untuk aku, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, cuma Dia yang mampu melengkapi aku yang banyak kurangnya.

Setelah hari itu, udah tuh nggak ada kelanjutan omongan apa-apa lagi, jadi aku mikir, yowislah mungkin tahun depan kita konsentrasi untuk tahap selanjutnya, tahun ini aku lagi sibuk sama rencana pindah kantor karna ada tawaran super duper menarik dan aku lagi konsentrasi untuk bisa dapetin itu semua.

May, Juni, seperti biasa tidak ada apa-apa, hubungan kami masih sekedar hubungan yang baik-baik saja dalam artian yah bener-bener baik tanpa ada cobaan apapun, aku cuma selalu berdoa sama Allah, jika memang dia lelaki untuk aku maka di permudah jalannya untuk segera halal, namun jika bukan dia, disegerakan dengan hal yang baik.

Lalu di bulan Ramadhan 2015, untuk pertama kalinya aku diajak Dodo untuk bertemu sama keluarganya, ini ke-unikan kedua setelah proses beli cincin, jadi suatu sore di weekend bulan ramadhan tepatnya hari minggu, Dodo telpon aku, padahal sabtunya kami sudah jalan bareng dan ada acara bukber bersama teman kuliahnya, dan sebelumnya dia juga udah bilang mau bukber sama keluarganya di hari minggu, lagi-lagi nih yaah .. aku kan orangnya sebenernya itu malesss banget kalo belum pasti untuk kenal-kenal sama keluarga pasangan, dari jaman dulu udah begitu, selalu cari-cari alesan kalo mau dibawa kerumah pasangan. Tapi sore itu aku langsung meng-iyakan ajakan Dodo (tumben juga dia ngajak padahal sebelumnya gak pernah sekalipun terlihat dia mau bawa aku ke orang tua-nya).

Sore itu jadi sore yang seru, nyokap aku langsung bersyukur begitu tau aku mau diajak bertemu keluarga Dodo (ini memang nyokap yang selalu nanya, sebenernya Dodo itu serius gak sih sama aku, kok gak pernah aku di ajak kerumahnya, padahal aku pun belum tentu mau juga kalo harus ketemu sama keluarga kalo aku belum gimana-gimana, jadi sikap Dodo gak mau nemuin aku ke keluarganya itu salah satu hal yang aku syukuri, kalau nggak, pasti aku jadi gimana-gimana gitu deh, bisa mundur perlahan atau jadi banyak alasan untuk gak mau di temuin).

Pertemuan pertama dengan keluarga Dodo, ada Bapak, Ibu, dan Adiknya, aku sih santai aja, meski awal grogi tapi aku nggak ada beban apapun , jadi beneran aku bersikap seperti biasa, memperkenalkan diri, ngobrol general, dan sampai akhirnya Bapak minta nomor hp aku (dan setelah itu aku suka di telponin sama Bapaknya sekedar nanya kabar gitu). Saat lebaran pun aku diajak pulang kampung sama Bapaknya, aku sih seneng aja secara aku suka trip kan, jadi perjalanan itu aku anggap sebagai Trip dong.

Pertama kalinya Bapak-Ibu ketemu sama Mama-Papa aku saat mereka jemput aku untuk dibawa ke kampung mereka, pagi itu disambut Papa, Alhamdulillah kesannya menyenangkan, dan saat di kampung pun jadi menyenangkan juga.

Setelah itu setiap minggu Bapak selalu telpon aku, perhatiannya mengalahkan anaknya sendiri, dan aku di tanyain terus kapan mau dilamar sama Dodo, looh harusnya kan Bapaknya yaah yang nanya itu ke Dodo, aku kan perempuan bisanya cuma nunggu aja, nggak bisa maksa-maksa (hehehe).

15 Agustus 2015, hari sabtu seperti biasa jadi ajang perjumpaan aku dengan Dodo, jadi kita ngobrol dari sore sampai akhirnya Dodo mau pamit (udah sekitar jam 11an malam gitu deh) tetiba dia bilang "Yang, aku mau sampaikan amanat dari bapak, kita mau ngelamar kamu secara resmi, kamu nanti bilang yah ke Papa & Mama, kira-kira waktunya kapan untuk aku sama keluarga bisa kesini" #Duarrrr (ini keunikan ketiga setelah kejadian cincin)

Lagi-lagi aku cuma bingung, dan speechless sampai akhirnya, "ok aku nanti bilang Papa-Mama dulu yaah" | "Iya kamu bilang dulu, bapak sih maunya minggu depan kesini sama keluarga" #Duarrr | "Oowww, kayaknya butuh persiapan deh, mungkin 2 minggu lagi" | "Iyaa, soalnya bapak maunya kita nikah bulan Oktober" (Dudududu lalala ... berarti gak sampe 2 bulan dong persiapannya).

Sampai akhirnya terjadilah acara Khitbah pada 31 Agustus 2015, acara yang bikin aku deg-degan sekaligus lega, sekaligus penuh perjuangan untuk persiapan Hari H yang udah ditentuin di tanggal 5 December 2015. Nggak lebih dari 3 bulan persiapan untuk mewujudkan keinginan dari banyak kepala itu.

Acara 30 Agustus 2015 berjalan lancar, semua proses aman, dan kedua belah pihak keluarga senang.


Nggak terasa hari ini tepat 3 tahun setelah acara khitbah tersebut, harapannya adalah Semoga Allah selalu menjaga hati aku dan kamu sama seperti saat pertama kali kita bertemu, kebersamaan kita saat ini adalah hasil dari doa-doa kita. Pertemuan kita adalah skenario terindah yang Allah atur untuk kita, hadiah dari segala penantian panjang kita, aku yang nggak pernah berharap kamu hadir dan kamu yang mungkin berharap bukan aku disisimu tapi Allah menyatukan kita dengan takdirnya. Allah membuat segalanya menjadi indah, Inshaa Allah apa yang disatukan-Nya tak akan dapat di pisahkan manusia, Dia yang menyatukan dan hanya Dia yang dapat memisahkan, saat ini yang bisa kita lakukan adalah bersyukur atas cinta yang tumbuh dihati kita, dan menjaga-nya untuk Allah, agar Allah selalu ridho dengan apa yang kita perbuat, dan kebersamaan ini nggak hanya di dunia tapi kelak di akhirat akan bersama-sama bergandengan tangan di surga-Nya. Aamiin Allahuma aamiin.

Ana uhibbuka fillah @myinframe

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara menghadapi Cowok yang "meminta" lebih ^_~

Butterfly in my stomach

“Yah udah jalanin aja dulu”