Permainan Ina

Throwback .. cerpen lama yang baru bisa di posting di sini karna sebelumnya udah pernah tayang juga di channel berbeda :-D

Kisah tentang pasangan suami istri yang mesti menjalani kehidupan Long Distance Relationship karena pekerjaan. Kehidupan yang harmonis awalnya dan lama kelamaan menjadi "hambar" karena ada ruang kosong yang tak mampu terisi. Mengundang hadirnya orang ketiga yang awalnya hanya sebagai tempat pelampiasan disaat galau menyerang, namun menjadi momok yang menakutkan yang tanpa disangka harus menimpa keharmonisan rumah tangganya.


Permainan Ina

"Akhiri aja yah permainan ini, aku capek" , ujar Ina di sudut coffee shop malam itu.

Ina sengaja janjian dengan Wira malam selasa itu, dia berniat untuk mengakhiri segala permainan yang telah dimulai sejak lama.

Wira menyesap kopi hangatnya dengan perlahan berpura tak mendengar apa yang Ina katakan.

Suasana hening, tak ada jawaban dari Wira akan pernyataan Ina yang berniat untuk mengakhiri hubungan mereka.

"Aku nggak bisa bohongin hati aku wir, ada perih yang teramat sakit saat aku menatap dalam mata tedy, aku udah dustain janji setia aku dengan dia, dan aku nggak kuat kalo aku terus-menerus menyakiti dia"

Ina melanjutkan alasannya untuk menyudahi hubungannya itu.

Wira masih diam, menunduk sambil memutar-mutar cangkir kopinya seakan berfikir.

Suasana malam di coffee shop itu lengang, waktu menunjukkan pukul 22:00, hanya beberapa orang yang masih terlihat, mungkin mereka sambil menunggu hujan reda diluar sana.

Percakapan masih satu arah, Wira belum membuka mulutnya untuk menjawab apa yang Ina tanyakan.

Melihat tak ada reaksi apapun dari Wira, Ina kemudian diam beberapa saat sambil menikmati caramel Machiato hangatnya.

"kenapa sekarang Na ?"

Akhirnya Wira membuka suara, namun tatapannya masih ke sebuah cangkir yang terus dia putar-putar.

"Karena aku udah nggak bisa bohong sama hatiku Wir, aku cinta suamiku"

"tapi aku cinta kamu Na"

"aacch ... Wir kamu udah tau statusku dari pertama kita ketemu kan ?"

"aku cinta kamu, dan aku nggak mau tau status kamu, aku senang kita begini terus Na"

"sampai kapan Wir ... ? kita udah terlalu jauh melangkah dan aku takut kita semakin tersesat"

"aku senang dengan ketersesatan ini Na"

Wira mulai menatap mata Ina dan mencoba menggenggam jemarinya, namun Ina mencoba melepaskan genggaman Wira.

"aku udah nggak bisa Wir , enough its enough ... kamu lanjutkan langkah kamu, aku akan lanjutkan hidupku bersama suami dan anakku"

Ina mulai tampak emosi dan nada suaranya terdengar meninggi.

"aku udah salah karena membiarkan kamu mengisi kekosongan yang tak bisa diisi suamiku"

"kamu nggak salah Na, rasa ini nggak pernah salah, karna kalau kamu jujur, yang kamu butuhkan hanya perhatian dan hanya aku yang bisa memberikan itu ?"

"Kalau aku jujur, yang aku cinta cuma tedy bukan kamu Wir ... maaf ... aku nggak bisa lanjutkan hubungan kita ini, aku udah memilih untuk tetap setia mendampingi suamiku sampai kapanpun"

Ina semakin emosi dengan pernyataan Wira yang bilang jika hanya perhatian Wira-lah yang sebenarnya dia butuhkan bukan suaminya yang selalu jauh dan tak pernah ada disampingnya itu.

Ina terlihat menahan air matanya dan mengatur nafas agar suaranya tak terdengar pecah oleh isakkan yang tertahan.

"Kita udah memulainya Na, dan aku nggak mau mengakhiri begini aja"

"maksud kamu Wir ?"

"aku mau menikah sama kamu"

"Kamu gila wir ..."

"atau kamu tetap biarkan segalanya berjalan seperti ini, karena aku nggak bisa tanpa kamu Na"

Ina udah nggak bisa menahan air matanya lagi, tumpah semua isaknya, Ina bingung dan kesal dengan keadaan ini.

Dan Wira tetap kokoh dengan pendiriannya, dia nggak mau mengakhiri hubungan ini karena pada Ina lah hatinya sudah tertambat dalam.

Ina terlanjur tersesat jauh dan tak tahu jalan kembali, Ia bingung akan berakhir bagaimana semua ini, permainan yang bermula karena ketidak sengajaan ternyata sulit untuk di akhiri .... Ina terperangkap dalam permainannya sendiri !!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara menghadapi Cowok yang "meminta" lebih ^_~

Butterfly in my stomach

“Yah udah jalanin aja dulu”